Sistem Pengendalian Manajemen

Apa sih sistem pengendalian manajemen (SPM) itu? Yah, kalo secara simpelnya sih sistem yang dibangun untuk memastikan tujuan entitas tercapai. Gimana caranya?

Kalo yang dasar sih mulai dari menetapkan tujuan atau goals-setting. Trus ke strategi yang ngomongin cara atau pendekatan yang mau dipakai untuk mencapai tujuan tersebut. Abis gitu ke perencanaan (action plan) buat meng-kongkrit-kan strategi yang mau dipake ke dalam langkah-langkah kecil yang doable. Trus eksekusi. Sama yang terakhir evaluasi. Ini ngebahas soal sudah tercapai nggak sih tujuannya, kenapa atau kenapa enggak, dan sebagainya.

Get Things Done 💪

Kalo aku liat sih SPM ini kayaknya secara konsep terkait banget sama akuntansi biaya dan akuntansi manajemen yak. Cuman kalo akuntansi biaya itu level operasional (ie. ngitung dan ngukur informasinya), trus akuntansi manajemen lebih ke menengah (ie. analisis dan interpretasi informasi), sementara SPM lebih ke strategik yaitu make informasi tersebut buat mengambil kebijakan. Yah kayak 3 sisi yang berbeda dari dadu yang sama gitu lah

Rie, ini kurang pas analoginya, lebih pas pake piramida.. Iya tapi aku mau pamer dadu segitigaku 😈

Berhubung levelnya strategik, alhasil SPM bicara hampir semua aspek entitas, yang seharusnya sih selain komprehensif juga terintegrasi karena ini sistem kan. Kita bicara soal goal-setting, misalnya, sambil juga belajar soal tujuan dan perilaku orang di dalam perusahaan. Ya gimana mau mendorong orang untuk bekerja membantu entitas mencapai tujuannya kalo kita nggak ngerti tentang orang itu sendiri kan?

Ini makanya SPM merupakan kuliah yang seru. Banyak banget hal yang selama ini kita terima-terima aja (take for granted) kalo dari sisi akuntansi atau keuangannya yang ternyata nggak terlalu jalan kalo dari sisi perilaku. Kalo dari sisi kompensasi, misalnya, ya makin bagus kinerjanya jelas makin tinggi juga lah reward-nya. Ini kayak perbankan di Amerika yang dulu jor-joran banget ngasi benefit ke pegawainya.

Nah tapi, kalo ngomongin behavioral economics, model begitu cuman bikin orang berorientasi sama uang dan akhirnya malah bisa kontra-produktif buat entitas. Salah satunya adalah indikasi kecenderungan perusahaan yang pakai model kompensasi semacam itu untuk memanipulasi labanya. Ini berarti analisis kinerjanya nggak sepenuhnya jujur dong. Ya trus buat apa kan? Kayak di kelas ekonometrika, garbage in garbage out. Kalo datanya udah gak bener ya analisisnya gak bisa dipake lah. Kita kira kinerjanya bagus trus ntar tiba-tiba bangkrut. Yaaah males.

Ngomongin soal fasilitas tambahan yang seru-seru (perks) kayak M&Ms di tiap ruangan. Kalo dari sisi keuangan sih itu nggak penting dan kayaknya sih pemborosan yah? Nah tapi kenapa kalo kita liat foto-foto startup yang asik kayak Google kok ruangannya banyak perks-nya gitu? Hayo lho.

Photo by Caio Resende from Pexels

Di sini lah serunya SPM. Berbagai aspek entitas itu bisa banget bakal saling bertentangan dan meniadakan. Kita belajar SPM biar bisa mengembangkan gimana sih model yang optimal untuk mendukung tercapainya tujuan perusahaan. Yuk belajar 😁

Yang Tak Berubah: Mengembangkan Disciplined Minds yang Lebih Beragam di Akuntansi

Agustus 2018 yang lalu, aku ikutan workshop pengembangan kurikulum di UI. Menyenangkan semuanya. Mulai dari temen, perjalanan, penginapan, jalan-jalan, sampai tentu aja yang paling penting, acaranya! 😁

Salah satu yang menyenangkan banget adalah sesi Prof. Lindawati Gani (UI). Beliau cerita soal akuntan di Era 4.0. Kebetulan sebelum berangkat, aku sempet liat twit soal betapa di tengah derasnya aliran perubahan, yang penting untuk dicari tau justru adalah apa yang tak berubah. Kupikir kan yah insight ini oke banget. Alih-alih berfokus pada segala hal yang sifatnya temporer, kenapa nggak kita cari tau dulu apa sih hal yang everlasting?

Nah, kebetulannya nih, pas acara itu Prof. Lindawati ngasih paparan soal peran akuntan. Oke, iya beliau ngasi judulnya sih perubahan peran akuntan yang mungkin secara implisit menunjukkan bahwa peran ini baru, tapi kok aku liatnya ya itu seharusnya peran akuntan dari dulu yah cuman mungkin penekanannya beda. Dulu maksudnya tahun 2000 ketika aku baru mulai belajar akuntansi di Unair 😅 (Oke, disclaimer.. aku nggak pernah beneran kerja jadi akuntan di suatu industri sih, jadi mungkin yang kubayangkan soal memberikan insight bisa jadi sangat tidak tepat.)

Memberikan insight dari data, misalnya bisa berupa analisis rasio dari laporan keuangan yang sudah dilakukan sejak dulu, mendesain form yang intuitif alias user-friendly yang relatif lebih baru di sistem informasi, sampai dengan yang baru banget kayak mengembangkan visualisasi data yang mendukung pengambilan keputusan seperti dashboard-nya P&G Eropa.

PS: Menulis ini, aku jadi menyadari bahwa ada beberapa hal yang kutangkap secara sekilas (sebagai lawan dari yang benar-benar kupelajari) ternyata sedikit-banyak berbeda maksud dengan yang menyampaikan. Twit soal perubahan itu, misalnya, tampaknya kuliat dari akun Adam Grant. Setelah kucek ulang, dia memaknai hal yang tidak berubah itu sebagai identitas dari si entitas itu sendiri. Hal ini sama sekali nggak terpikirkan olehku.

Sementara itu, slide-nya Prof. Lindawati Gani ternyata berjudul “Changing Roles of Accountants” 😱 Padahal aku make kontennya sebagai hal yang nggak berubah di akuntan ataupun akuntansi. Lah kan jauh yah?

Ini mengingatkanku pada konsep bahwa kita memandang dunia dengan lensa kita masing-masing dan interpretasi kita terhadap dunia tersebut akhirnya sangat diwarnai oleh lensa itu. Salah satu analogi yang kusuka banget tentang hal ini adalah istilah “those who see the world through rose-colored glasses see red-flags only as flags”

Permainan kata yang super-duper keren banget. Kapan-kapan kita bahas yak? 😁