AccountingX

Ada Masanya Ketika…



oleh Arie Rahayu

Selamat September!

Bulannya orang-orang romantis sedunia. *halah*

Oke, jadi ceritanya aku baru baca papernya Thomas R. Dyckman dan Stephen A. Zeff, yang kebetulan keduanya pernah menjabat sebagai presiden American Accounting Association. Paper seru ini berjudul “Accounting Research: Past, Present, and Future.”

zeff

Dalam paper ini, Dyckman dan Zeff menceritakan masa sebelum paper empiris yaitu sekitar tahun 1960-an. Saat itu, kebanyakan riset akuntansi merupakan riset normatif, berdebat soal bagaimana seharusnya praktik akuntansi itu. Sebagian besar peneliti dan pengarang akuntan hanya bergelar sarjana (S1) dan master (S2), namun nyaris seluruhnya memiliki gelar CPA. Dunia akademik akuntansi saat itu begitu kerennya sampai-sampai buku teks akuntansi (standar kuliah) dianggap sebagai salah satu referensi autoritatif GAAP!

Wow!

Bandingkan dengan zaman sekarang. Jangankan praktisi, mahasiswa akuntansi aja jarang baca buku teksnya sendiri.

Ini adalah masa di mana jurnal akuntansi dibaca  dan didiskusikan secara luas, baik oleh akademisi maupun praktisi. Bahkan, nggak kalah dengan akademisi, praktisi juga menulis artikel normatif di jurnal-jurnal akuntansi. Di bidang-bidang tertentu malah diskusinya panas dan seru!

Wah!

Ada lho masa seperti itu.

Kenapa ya nggak terjadi lagi di zaman sekarang? Apalagi di Indonesia. Apakah kita sudah kekurangan bahan diskusi akuntansi?

Enggak juga lho sebenernya. Di masa perekonomian yang berganti lebih cepat daripada RI ganti presiden ini, banyak banget yang bisa kita diskusikan. Ada perubahan besar dalam  kunci-kunci diskusi di masa intangibles, knowledge economy, perekonomian digital, dan sekarang sharing economy ini. Zaman knowledge economy, misalnya, ide itu segalanya. Nggak kurang-kurang kita lihat kompetisi ide dan sejenisnya. Sekarang? Ide itu receh, katanya. Semua orang tau persis dan bisa meniru idenya Gojek tapi apa iya bisa mewujudkannya?

Dampaknya ke akuntansi? Banyak banget. Mestinya.

Kita bisa diskusi, misalnya, apakah perlu memasukkan ukuran usaha digital (digital effort) perusahaan. Ambil contoh Nutrimart deh. Mereka ini online shop-nya Nutrifood, produsen merek-merek kelas menengah seperti Nutrisari, HiLo, Tropicana Slim, WRP, dan sebagainya. Mengingat Nutrimart ini dikembangkan dengan serius, coba liat promo dan diskonnya, perlu nggak mereka masuk khusus dalam laporan keuangan?

nutrimart

Kalau aspek keuangan seperti pendapatan dan laba segmen sih jelas ya. Gimana kalau usaha digitalnya itu sendiri? Perlu nggak kita mengukur metrik dasar usaha digital seperti “traffic generation,” tepatnya seperti click through rate atau cost per click? Atau mungkin metrik yang lebih dekat ke pendapatan (revenue) seperti ROI untuk kampanye digital yang dilakukan atau mungkin kos untuk mengakuisisi pelanggan (digital)? Mungkin ini bisa kita masukkan dalam catatan keuangan?

Kalau untuk metriknya sendiri sih sebenernya sudah banyak diskusinya tapi *bukan* di diskusi akuntansi. Ya itu dia masalahnya. Kenapa enggak kita coba diskusikan aja?

Yuk kita ramaikan diskusinya.

 

(PS: foto hujan nan keren ini kuambil dari Pexels)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s