AccountingX

Yth. Pengelola Jurnal Akuntansi

Arie

oleh Arie Rahayu

 

Hai! Masih ingat paper Dyckman dan Zeff, “Accounting Research: Past, Present, and Future” yang kita bahas kemarin? Nah, selain mengkritik arah perkembangan jurnal akuntansi yang cenderung monoton ke pengujian hipotesis dengan analisis statistik, Thomas R. Dyckman dan Stephen A. Zeff juga memberi sejumlah saran pada pengelola jurnal akuntansi. Ini mereka lakukan dengan harapan jurnal penelitian mampu memastikan riset publikasian memiliki standar terbaik, bahwa kontributor mengalokasi sumber daya yang tersedia secara optimal, dan bahwa bantuan selalu tersedia ketika diperlukan. Salah satu sarannya adalah…

texture-handwriting-sutterlin-vintage-99562

Kualitas Tinggi

Ini yang semestinya jadi fokus pengelola jurnal. Pun semestinya tidak dibatasi oleh metode penelitian seperti saat ini di mana jurnal lebih berfokus pada metode statistik untuk uji hipotesis. Ketika kita sebagai orang awam berbicara tentang buku yang bagus, misalnya, apakah itu merujuk pada genre tertentu? Apakah drama lebih bagus daripada komedi? Apakah sejarah lebih bagus daripada horor? Tentu tidak. Buku yang bagus ya buku yang bagus, terlepas dari apapun genrenya.

Lalu kenapa jurnal akuntansi saat ini seperti terbatasi oleh uji hipotesis dengan analisis statistik saja? Metode arsip, studi kasus, analisis sejarah, penelitian lapangan, ataupun metode penelitian lainnya semestinya boleh saja, yang penting penelitian tersebut benar-benar berkualitas. Apalagi kalau kita ingat bahwa tidak semua pertanyaan cocok dibahas dengan analisis statistik. Pertanyaan mengapa model Balanced Scorecard tidak berhasil diterapkan di banyak perusahaan misalnya tidak dapat dianalisis secara sederhana hanya dengan mengandalkan jawaban dari para manager akuntansi.

Dengan demikian, fokus pada uji hipotesis seperti yang terjadi sekarang pun berpotensi untuk membawa pengaruh buruk pada eksplorasi ilmu. Ada 2 hal yang mungkin terjadi. Pertama, dunia akuntansi akhirnya hanya membahas pertanyaan-pertanyaan yang cocok untuk diuji hipotesis. Ini akan membatasi perkembangan akuntansi itu sendiri mengingat uji hipotesis hanya cocok dilakukan untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang sudah cukup mapan.

Kedua, peneliti tetap memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru namun membahasnya dengan uji hipotesis. Ini akan menimbulkan the favored technique syndrome. Peneliti mungkin membungkus ulang pertanyaannya tersebut ke dalam bentuk yang cocok untuk uji hipotesis. Hal ini tentu akan mengurangi efektifitas pertanyaan dan sekaligus jawabannya. Kedua hal ini berpotensi mengurangi perkembangan akuntansi dalam menghadapi perubahan ekonomi.

Oleh karena itu, Dyckman dan Zeff menyarankan agar pengelola jurnal berfokus pada kualitas saja, apapun metode penelitiannya. Untuk dapat mencapai hal ini, pengelola jurnal perlu menambahkan ahli metode penelitian alternatif (selain analisis statistik untuk menguji hipotesis) sebagai pereview dalam jurnal mereka. Hal ini penting karena tiap metode penelitian memiliki tujuan dan karakternya masing-masing. Apabila penelitian studi kasus dinilai dengan kacamata uji statistik (e.g. akurasi, kemapananan teori, dsb) tentu hasilnya akan buruk. Oleh karena itu, kita memerlukan beragam ahli metode penelitian dalam pengelolaan jurnal sehingga mampu memastikan pembahasan pertanyaan-pertanyaan penting akuntansi di masa kini.

Apa lagi saran Dyckman dan Zeff? Baca selengkapnya di artikel mereka, “Accounting Research: Past, Present, and Future.”

(Anda bisa mengunduh artikel tersebut di SSRN. Link: https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=2542632)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s