Research Populaire

Ava Duvernay, 13th

Arie 

oleh Arie Rahayu

 

Hai! Kemaren aku abis baca artikelnya Fast Company tentang 13th, film dokumenter 13thteranyar Ava Duvernay. Yang menarik, dalam rangka riset, Ava cerita kalau dia dan editornya sampai nonton 1.000 jam footage soal kekerasan rasial di Amerika.

1000 jam riset!

Bayangin. Kalau 1 hari nonton 10 jam maka butuh 100 hari untuk selesai nonton semua footage-nya. Itu baru soal kekerasan rasial. Tentu ada lagi riset yang dilakukannya dalam rangka aspek lainnya. Berdedikasi banget ya?

Ya memang sih, selain topiknya yang berat yaitu soal rasisme di Amerika, premis 13th ini pun nggak main-main: bahwa rasialisme di Amerika, yang berakar dari zaman perbudakan, juga masuk dan terselubung ke dalam dunia hukum.

Serius ini nggak main-main. Secara umum, rasisme selalu ditarik ke prasangka sejak zaman perbudakan. Prasangka, jadi lebih ke soal rasa. Nah, kalau sampai bisa masuk ke dunia hukum ini berarti sudah masuk sistem. Ada yang salah dengan sistemnya dan kesalahan itu secara tidak adil telah merugikan banyak orang dalam suatu kelompok, yang dalam kasus ini adalah orang berkulit hitam. Kenyataannya, walaupun orang kulit hitam cuma 1/3 dari populasi warga Amerika, namun mereka merupakan 2/3 dari total orang yang dipenjara. Ngeri ya?

 

 

 

 

Advertisements
AccountingX

Yth. Pengelola Jurnal Akuntansi

Arie

oleh Arie Rahayu

 

Hai! Masih ingat paper Dyckman dan Zeff, “Accounting Research: Past, Present, and Future” yang kita bahas kemarin? Nah, selain mengkritik arah perkembangan jurnal akuntansi yang cenderung monoton ke pengujian hipotesis dengan analisis statistik, Thomas R. Dyckman dan Stephen A. Zeff juga memberi sejumlah saran pada pengelola jurnal akuntansi. Ini mereka lakukan dengan harapan jurnal penelitian mampu memastikan riset publikasian memiliki standar terbaik, bahwa kontributor mengalokasi sumber daya yang tersedia secara optimal, dan bahwa bantuan selalu tersedia ketika diperlukan. Salah satu sarannya adalah…

texture-handwriting-sutterlin-vintage-99562

Continue reading “Yth. Pengelola Jurnal Akuntansi”

AccountingX

Ceteris Paribus

Arie

oleh Arie Rahayu

 

Lagi baca Cooper, Schindler dan menemukan kata “retarded.” Bingung sekaligus kagum kenapa kata yang sekarang berkonotasi negatif ini bisa ada di buku teks kuliah. Alhasil aku baca ulang kalimatnya.

“The past reluctance of most social scientist to use experimental designs is believed to have retarded the development of scientific research in the social science arena.”

Entah kenapa langsung ingat ceteris paribus. Istilah populer dalam ekonomi yang berarti “bila hal lain tetap”. Ketika seorang ekonom menyebut bahwa jumlah impor sapi akan menurunkan harga, dia secara implisit mengasumsikan ceteris paribus. Bahwa tidak terjadi hal lain yang juga mempengaruhi harga.

Dalam penelitian, kalau nggak keliru, konsep ini juga mewujud ke dalam penggunaan regresi. Cara membaca koefisien regresi adalah perubahan 1 unit X1 akan mempengaruhi Y sebesar b1 (koefisien X1), bila nilai X2 tetap.

Yang menarik, penelitian ekonomi sering menggunakan data dunia nyata. Jumlah impor sapi real, dengan harga daging sapi real. Dunia real yang tidak peduli pada ceteris paribus. Di dunia nyata, harga daging sapi tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah impor. Kadang dia juga dipengaruhi oleh terjadinya topan yang menghalangi transportasi ke daerah yang jauh. Kadang dia dipengaruhi oleh tertahannya pasokan di bea cukai. Kadang harga ini juga dipengaruhi oleh rumor beredarnya daging sapi yang terjangkit mad cow.

Di sisi lain, kita bisa melihat bahwa cara lain membaca ceteris paribus adalah saya hanya ingin tau soal faktor X saja. Dan bagaimana cara paling bagus untuk mengetahui pengaruh faktor X ini saja?

 

Dengan eksperimen.

 

Aku penasaran. Mungkinkah Cooper dan Schindler sebenarnya sedang menggosipkan ilmu ekonomi?

 

😁😁😁